Ultah untuk Orang Terkenang part:1


Sebenarnya saya enggan untuk menuliskan ini….Tapi kadang tidak bisa dipungkiri jika dia masih kuingat sampai sekarang. Seseorang yang dulu begitu berharga dan manis di hatiku, dan bagaimanapun dia sempat meninggalkan jejaknya dalam cintaku.Seseorang yang begitu berharga itu, pada tanggal 04 Desember kemaren ulang tahun ke 21th. Mungkin dia sudah mendapatkan apa yang menjadi harapannya, karena sungguh saya tidak mengerti kabarnya dem menjaga perasaan ini. Entah setan apa juga yang mendorong saya untuk menulis tentang dia. Apapun itu dia masih sangat berharga untuk menjadi kenanganku. Mungkin dengan ini bisa menyampaikan doaku buat dia di hari bahagianya:

Bangkalan

Dalam tarikh empa
Di bawah naungan bulan Desember
Di balik selubung tahun dua ribu delapan.

Menjumpai yang telah lama tak bersua dalam suatu jumpa.

Aku adalah selembar risalat, yang ditulisi sebaris dua kata-kata hati dari ujung pena kalbu dengan tinta nurani. Aku tercipta dari rahim kesunyian, tumbuh dan berkembang dalam buaian dan asuhan kesepian dan kesendirian. Aku terlahir sebagai bukti dari pada sebuah penungguan, penungguan akan – ada yang menyebutnya sebagai – sebuah ketidakpastian.

Dan, aku – selembar risalat – terutus untuk sekedar mengingatkan sang masa, bahwa hari ini – hari dimana aku tercipta dan terlahir – telah pernah mendahuluiku akan sebuah kelahiran yang sehingga kini masih abadi. Sekedar memohon pada sang masa ‘tuk sudi dalam henti sejenak, memberi satu kata ucap dan tinggalkan sebongkah kado harapan yang terbungkus rapi do’a-do’a dan terikat pita semoga-semoga, yang terkirim dalam sepenggal kata, beralamat pada tuanku putri dalam istana, dari salah satu pemujanya yang tengah menikmati deritanya dalam jurang cinta, yang terbelenggu dalam pasung-pasung kesepian dan kesendirian, yang batinnya hancur oleh lecutan cemeti penantian. Dan kini, ia tengah mengerang dalam sakaratnya. Nyawanya telah teronggok antara kesetiaan dan ketidakpastian. Sekedar berharap mampu melihat sang tuanku putri dengan senyum saat kematian merangkulnya.

Aku – selembar risalat – tak mampu lagi ‘tuk memanjang lebar kata. Karena bagaimana mungkin seorang buta ‘kan dapat mengungkapkan isi batinnya dalam goresan-goresan lembut pena, sementara untuk menceritakannya ia pun tak mampu, karena sekaligus ia seorang yang bisu. Sehingga ia tak bisa membuat orang lain mendengar ataupun ia sendiri yang mendengar isi batinnya, karena pada saat yang sama ia adalah orang yang tuli. Ia tak mampu berbuat apa-apa. Satu-satunya yang ia bisa lakukan hanyalah menanti saat sebuah uluran rasa menyentuh sejuk kalbunya, karena akan mustahil sebuah uluran tangan akan menyentuhnya dengan cintaku.

04 Desember 2008

Selamat ulang tahun kuucapkan, s’moga segenap harapan, impian, cita dan cinta akan engkau raih kelak di sekemudian masa.

Sungguh ku ……………………Melihatnya adalah bahagia bagiq, seseorang yang pernah ku sayang dan masih ku sayang

Posted on Desember 6, 2008, in Sajak and tagged , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. hiks…hiks…hiks…
    hiks…hiks…hiks…
    hiks…hiks…hiks…
    minta sapu tangan dunkz……
    hiks…hiks…hiks…hiks…

  2. ………………………………..
    …………………………………..
    …………………………………..
    ………………………………….
    *speechless*

  3. wuih …………..berat banget ya beban loe ..
    sampai2 kata2 yang segitunya bro …

    ehm…boleh tahu caranya nulis kayak gitu nggak ??
    mungkin aja punya referensi yang tokcer ..!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: